Home / Blog/Catatan Pribadi / Pelajaran dari Seekor Ayam dan Delay di Bandara

Pelajaran dari Seekor Ayam dan Delay di Bandara

Tentang ayam yang berlari dari belenggunya, dan manusia yang berlari dari Tuhannya.

Bandara selalu punya suasana yang unik. Antara rindu dan perpisahan, harap dan gelisah, tumpah di ruang tunggu yang bercampur aroma kopi dan suara roda koper. Hari itu aku duduk di dekat jendela besar, menatap landasan yang basah oleh gerimis tipis. Di layar besar terpampang kata yang bisa membuat siapa pun menghela napas panjang: DELAY.

Aku tersenyum kecut. Pesawatku tertunda lagi, entah untuk kali keberapa. Tapi di balik rasa kesal yang mulai tumbuh, ada suara kecil di dalam hati yang mengingatkanku pada sebuah nasihat lama yang beberapa hari lalu ku peroleh dari salah satu narasumber, nasihat itu dari seseorang yang ucapannya masih sering bergema dalam ingatan mereka, yakni H. Ibrahim Yusuf.

Beliau bukan sekadar seorang ulama, tapi juga seorang guru logika kehidupan. Caranya menasihati orang lain tak pernah dengan marah, melainkan dengan perumpamaan yang sederhana namun menampar lembut. Dan salah satu nasihatnya yang paling melekat di benakku adalah tentang seekor ayam.

Suatu hari, beliau memanggil salah satu ajudannya dan berkata, “Bayangkan seekor ayam yang kakinya diikat dengan tali panjang. Ujung tali itu diikatkan pada sebatang patok kayu. Apa yang terjadi?”

Ajudannya menjawab, “Ayam itu pasti berlari-lari, Tuan.”
“Benar,” kata beliau, “ia akan berlari ke kanan, ke kiri, ke mana pun ia mau. Tapi tali itu akan menahan dan akhirnya melukai kakinya sendiri. Padahal, kalau saja ayam itu mau berhenti berlari, lalu berjalan mendekati patok kayu itu, ia bisa mematuk tali di tempat ia terikat. Ia bisa bebas, tanpa harus melukai dirinya.”

Lalu beliau menatap dalam, dengan nada suara yang berat tapi penuh kasih.
“Begitulah manusia,” katanya. “Ketika ditimpa masalah, banyak yang berlari ke sana kemari. Sibuk mencari jawaban, menyalahkan orang, menyalahkan keadaan. Padahal tali masalah itu tak akan putus dengan cara berlari. Satu-satunya cara adalah mendekat ke belenggunya — kembali kepada Allah. Di sanalah kunci untuk melepaskan diri.”

Aku terdiam lama waktu itu mendengarnya. Dan pagi ini, di ruang tunggu bandara yang dingin, nasihat itu kembali hidup — tepat ketika aku juga sedang “terikat” oleh keadaan yang tak bisa kuubah: keterlambatan.

Delay. Satu kata yang bagi sebagian orang hanya berarti menunggu. Tapi bagi banyak dari kita, delay bisa menjadi cermin: betapa kita tak kuasa atas waktu, betapa manusia bukan pengatur langit dan jadwal. Kita hanya penumpang di perjalanan hidup yang dikendalikan oleh-Nya.

Aku menatap keluar jendela, pesawat lain satu per satu mulai bergerak, sementara penerbanganku tetap diam di layar. Dalam hati aku bertanya: berapa kali dalam hidup ini aku berlari seperti ayam itu? Berusaha kabur dari kenyataan, sibuk mencari solusi instan, tapi malah melukai diriku sendiri karena lupa mendekat pada sumbernya?

Kita sering menganggap masalah datang untuk menyiksa, padahal bisa jadi ia datang untuk mengundang kita pulang — pulang kepada Allah, pulang pada kesadaran bahwa tidak ada tali yang bisa kita putus tanpa bantuan-Nya.

“Setiap kali kau merasa terikat oleh masalah, jangan buru-buru menyalahkan tali. Kadang, tali itu adalah tanda bahwa Allah masih memegangmu erat agar kau tak tersesat.”

Aku menatap jam. Delay masih belum berubah. Tapi kali ini, aku tak lagi merasa kesal. Mungkin Allah sedang menunda keberangkatanku bukan karena pesawatnya bermasalah, tapi karena aku yang perlu diperbaiki lebih dulu.

Setiap orang punya “tali panjang” dalam hidupnya. Ada yang berupa pekerjaan yang stagnan, hubungan yang rumit, atau rencana yang tak kunjung berhasil. Kita sering berlari dari satu solusi ke solusi lain, padahal kuncinya bukan pada larinya, tapi pada sudut tali itu sendiri — pada patoknya.

Patok itu, dalam bahasa iman, adalah tempat kita menggantungkan segalanya: Allah. Selama kita tak mendekat pada-Nya, kita akan terus berputar dalam lingkaran yang sama. Seperti ayam yang terus berlari tanpa sadar bahwa jawabannya ada di dekatnya.

Delay hari ini mungkin hanya beberapa jam. Tapi hikmah yang dibawanya bisa seumur hidup. Aku belajar bahwa diam pun bisa menjadi ibadah, jika diisi dengan kesadaran dan doa. Aku belajar bahwa keterlambatan bisa menjadi pelajaran, jika kita berhenti memaksa waktu dan mulai percaya pada kehendak-Nya.

Dan di tengah riuh suara speaker yang akhirnya memanggil nomor penerbangan kami, aku tersenyum sambil berbisik pelan,
“Terima kasih, Ya Allah, untuk setiap tali yang Kau pasang, karena mungkin tanpa itu aku sudah berlari terlalu jauh dari-Mu.”

Penutup Reflektif

Ya Allah, ajarilah kami untuk berhenti berlari tanpa arah.
Tuntunlah hati kami agar berani mendekati “patok” kehidupan kami — Engkaulah tempat kami terikat dan bergantung.
Ketika kaki kami terasa sakit oleh tali ujian, lembutkanlah hati kami agar tak menyalahkan takdir, tapi mencari hikmah di baliknya.
Sebab kami tahu, tidak ada keterlambatan di sisi-Mu, hanya penundaan yang penuh makna.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA ImageChange Image