KATA PENGANTAR
Indonesia sedang berada di persimpangan sejarah media dan identitas sosial. Di satu sisi, kita memiliki akses informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya setiap orang kini dapat berbicara, mempengaruhi, dan membentuk opini publik dari layar kecil di tangan mereka. Namun di sisi lain, kebebasan informasi yang seharusnya memperkaya pemahaman bersama justru sering melahirkan paradoks baru: semakin banyak informasi yang kita miliki, semakin sulit kita menentukan mana yang benar-benar penting.
Fenomena ini bukan sekadar gejala budaya pop, tetapi persoalan struktural yang mempengaruhi kualitas demokrasi, moral sosial, dan kapasitas kita sebagai bangsa untuk merespons krisis. Ketika perhatian publik lebih tercurah pada drama kecil seperti tumbler yang hilang atau gosip perselingkuhan, sementara isu besar seperti banjir, ketidakadilan sosial, kerusakan lingkungan, dan kebijakan publik terpinggirkan, kita melihat adanya pergeseran nilai yang patut diwaspadai.
Indonesia adalah negara besar dengan tantangan nyata: perubahan iklim, pembangunan yang timpang, serta kompleksitas sosial yang membutuhkan kedewasaan kolektif. Namun energi masyarakat kita sering terkuras bukan untuk memahami persoalan fundamental itu, melainkan untuk mengomentari isu-isu viral yang tidak memberikan solusi apa pun. Di tengah situasi ini, gagasan Yuval Noah Harari tentang Dataisme dan era jaringan informasi menjadi relevan bukan karena Indonesia sedang mengejar kecanggihan teknologi, tetapi karena kita sedang menghadapi konsekuensi sosial dari teknologi yang sudah terlanjur membentuk cara kita berpikir dan bereaksi.
Kata pengantar ini tidak dimaksudkan untuk menggurui, melainkan sebagai ajakan refleksi: kalau perhatian adalah aset terbesar manusia modern, maka pertanyaannya bukan lagi apa yang kita ketahui, tetapi apa yang kita pilih untuk peduli. Sebab dari pilihan itulah arah masa depan bangsa ditentukan bukan oleh algoritma, tetapi oleh kesadaran kolektif kita sendiri.
MASALAH UTAMA
Mengapa Tumbler & Perselingkuhan Mengalahkan Banjir
Fenomena tumbler yang hilang dan drama perselingkuhan selebritas sebenarnya bukan persoalan besar secara substansi, namun keduanya mampu mendominasi perhatian publik selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sementara itu, bencana banjir yang melanda Sumatera yang secara nyata merusak kehidupan, merenggut mata pencaharian, dan menimbulkan trauma sosial justru tidak memperoleh ruang percakapan yang setara. Kontras ini membingungkan pada permukaan, tetapi jika diamati lebih dalam, ia mencerminkan masalah struktural yang jauh lebih serius: ada sesuatu yang berubah dalam cara masyarakat Indonesia memaknai penting dan tidak penting.
Ketika publik lebih tertarik membicarakan tumbler ketimbang banjir, yang dipertaruhkan bukan sekadar pilihan topik, tetapi orientasi perhatian kolektif kita. Tumbler dan perselingkuhan menawarkan narasi yang sederhana dan emosional. Orang bisa segera mengambil posisi siapa salah, siapa benar, siapa yang harus dibela tanpa perlu memahami konteks yang lebih luas. Bahkan tanpa mengetahui seluruh fakta, kita merasa cukup kompeten untuk berkomentar. Media sosial menyediakan ruang ekspresi yang instan, dan instansi emosional ini menjadi semacam dopamin sosial: cepat, ringan, dan memuaskan.
Sebaliknya, bencana alam tidak memberikan kenyamanan emosional yang sama. Ia tidak menawarkan tokoh antagonis tunggal, tidak menyediakan kisah personal yang mudah dimitoskan, tidak menyajikan konflik interpersonal yang memancing adrenalin moral. Banjir menuntut pemikiran: tentang tata kelola lingkungan, pembangunan yang timpang, kebijakan publik, dan relasi manusia dengan alam. Ia memaksa kita berhadapan dengan kenyataan bahwa solusi atas bencana tidak sesederhana menunjuk satu tersangka. Di sinilah masalah muncul masyarakat cenderung menghindari isu yang menuntut kedalaman pemahaman, apalagi kesediaan untuk bertindak.
Dalam konteks ini, tumbler dan perselingkuhan menjadi semacam escape room sosial: ruang pelarian dari realitas yang kompleks. Mereka menawarkan ilusi keterlibatan publik seolah kita ikut serta dalam wacana masyarakat, seolah kita peduli pada isu moral padahal yang sebenarnya terjadi hanyalah konsumsi drama. Tidak ada konsekuensi nyata setelahnya, tidak ada tuntutan aksi, tidak ada keharusan memperbaiki apapun. Kita cukup marah, tertawa, atau bersimpati di layar, lalu hidup kembali seperti biasa.
Sebaliknya, bencana banjir mengganggu kenyamanan kita. Ia memaksa kita melihat bahwa ada saudara sebangsa yang kehilangan tempat tinggal; bahwa ada sesuatu yang salah dengan cara kita memperlakukan lingkungan; bahwa ada kewajiban moral untuk membantu, mempertanyakan, atau memperbaiki. Dan karena tuntutan itulah, banjir sering tersingkir. Pikiran manusia, apalagi dalam masyarakat digital, lebih suka memilih isu yang bisa ditamatkan dalam satu paragraf, bukan persoalan yang membutuhkan proses panjang dan kedewasaan sosial.
Masalah utama kita bukan terletak pada tumblernya, bukan pada perselingkuhannya, dan bukan pula pada banjirnya. Masalahnya ada pada bagaimana perhatian publik dibentuk dan diarahkan. Ketika energi emosional kita habis untuk isu-isu kecil, sementara tragedi besar tidak dianggap mendesak, maka kita sedang menyusun ulang skala moral secara diam-diam. Kita sedang membangun masyarakat yang superfisial masyarakat yang reaktif terhadap sensasi, tetapi tidak mampu merespons kenyataan yang memerlukan empati, refleksi, dan tindakan nyata.
Banjir yang menenggelamkan rumah-rumah di Sumatera sesungguhnya tidak pernah kalah relevan dibanding tumbler. Yang kalah adalah kapasitas kita untuk peduli. Dan ketika kepedulian dikalahkan oleh kesenangan menonton drama, maka bencana terbesar bukan lagi banjir yang merendam tanah kita melainkan banjir informasi yang merendam nurani kita.
HARARI & DATAISME
Ketika Makna Hidup Berpindah dari Manusia ke Data
Yuval Noah Harari bukan hanya sejarawan; ia adalah pengamat masa depan manusia. Dalam buku Homo Deus, ia memperkenalkan gagasan yang terasa semakin nyata hari ini: Dataisme. Menurut Harari, umat manusia sedang melangkah ke fase baru sejarah fase ketika data bukan sekadar alat untuk memahami dunia, tetapi menjadi sumber makna dan otoritas baru. Jika di masa lalu agama, mitos, atau ideologi menentukan apa yang benar dan penting, kini algoritma dan statistik mengambil alih peran itu secara perlahan.
Harari menjelaskan bahwa manusia modern semakin melihat dirinya bukan sebagai makhluk spiritual atau moral, melainkan sebagai komponen dalam jaringan informasi global. Kita bukan lagi pusat alam semesta; kita adalah simpul, node, titik kecil yang terhubung dalam sistem raksasa bernama internet. Segala sesuatu yang kita lakukan dari membeli barang sampai memilih pasangan hidup direkam, diproses, dan dijadikan data yang kemudian menentukan perilaku kita berikutnya. Pada tahap ini, bukan manusia yang membaca realitas, tetapi realitas yang dibentuk dari apa yang dibaca algoritma tentang manusia.
Dalam kerangka Dataisme, nilai bukan lagi berasal dari pengalaman subjektif, melainkan dari berapa besar kontribusi informasi yang kita hasilkan. Harari memperingatkan bahwa ketika data menjadi agama baru, makna hidup akan bergeser dari pertanyaan moral menjadi pertanyaan utilitas digital. Sesuatu dianggap penting bukan karena benar, tidak adil, atau menyelamatkan nyawa, tetapi karena menghasilkan keterlibatan klik, komentar, share yang memperpanjang aliran informasi. Pada titik inilah, kita mulai memahami kenapa tumbler atau perselingkuhan bisa mengalahkan banjir: mereka menghasilkan data yang jauh lebih menarik bagi sistem.
Dalam dunia Dataisme, pengalaman manusia kehilangan bobot jika tidak meninggalkan jejak digital. Harari pernah menulis: “Jika suatu pengalaman tidak terekam dan tidak dapat dibagikan, maka dalam logika sistem, ia seperti tidak pernah terjadi.” Inilah tragedi zaman ini: banjir yang merusak begitu banyak kehidupan nyata seolah-olah tidak terjadi, karena ia tidak dapat dilipatkan menjadi konten cepat saji yang sesuai dengan selera algoritma. Sementara itu, skandal kecil dapat membesar, bukan karena dampaknya besar, tetapi karena ia menghasilkan percakapan tanpa henti yang relevan bagi mesin pengumpul perhatian.
Lebih berbahaya lagi, Dataisme bukan hanya cara baru melihat dunia ia perlahan membentuk cara kita merasakan dunia. Kita marah karena melihat sesuatu viral, bukan karena hal itu salah. Kita sedih bukan karena tragedi, tetapi karena tidak ada yang membicarakannya. Kita menilai diri bukan dari tindakan, tetapi dari reaksi orang terhadap tindakan itu. Dalam logika yang cacat ini, empati menjadi usang, digantikan validasi digital.
Harari memperingatkan bahwa apabila manusia terus menyerahkan otoritas pada algoritma, maka pusat kendali akan bergeser dari kesadaran ke kalkulasi. Ketika itu terjadi, manusia bukan lagi makhluk yang memaknai dunia, tetapi makhluk yang dimaknai oleh dunia digital. Ia tidak lagi memilih apa yang penting, tetapi hanya merespons apa yang ditentukan sistem sebagai penting. Dan saat itulah kita kehilangan salah satu hal paling berharga yang membuat kita manusia: kebebasan menentukan nilai.
Melalui sudut pandang Harari, kita dapat melihat bahwa perdebatan tumbler dan gosip selebritas bukan sekadar hiburan. Ia adalah gejala dari transformasi besar pergeseran otoritas dari individu ke jaringan informasi. Kita bukan lagi subjek yang memilih apa yang diperhatikan; kita adalah objek yang diperebutkan oleh apa yang ingin diperhatikan.
Dengan demikian, persoalan viralitas bukan lagi perkara selera media sosial. Ia adalah persoalan masa depan manusia.
VIRALITAS SEBAGAI KEKUASAAN BARU
Ketika Algoritma Menggantikan Penguasa
Pada masa lalu, kekuasaan ditentukan oleh siapa yang memiliki tanah, pasukan, atau sumber daya. Raja, negara, agama, dan elit politik menguasai narasi tentang apa yang penting bagi masyarakat. Namun dalam era digital, peta kekuasaan itu diam-diam bergeser. Kini, kekuasaan tidak lagi terletak pada siapa yang paling kuat secara fisik, tetapi pada siapa yang paling mampu mengendalikan perhatian. Dan perhatian, dalam dunia yang diatur algoritma, adalah mata uang yang lebih berharga daripada emas. Tidak ada gunanya memiliki ide besar jika tidak viral. Tidak ada gunanya memperjuangkan kebenaran jika tidak terlihat. Bahkan sebuah tragedi kemanusiaan dapat lenyap dari kesadaran publik hanya karena kalah bersaing dengan konten lain yang lebih “menghibur”. Di titik inilah kita menyadari bahwa viralitas telah berubah menjadi bentuk kekuasaan baru kekuasaan yang menentukan apa yang dibicarakan, apa yang dilupakan, dan siapa yang dianggap penting.
Jika dulu media massa bertugas menyaring dan menentukan agenda publik, kini peran itu telah direbut oleh algoritma. Mesin-mesin tak terlihat ini mengatur apa yang muncul di beranda kita, bukan berdasarkan urgensi moral atau kepentingan sosial, melainkan berdasarkan satu pertanyaan tunggal: mana yang paling mungkin membuat kita berhenti sejenak, bereaksi, dan kembali lagi? Dengan demikian, perhatian publik tidak lagi diarahkan pada isu yang relevan, tetapi diarahkan pada isu yang paling menguntungkan secara digital.
Fenomena ini menciptakan sebuah paradoks. Masyarakat yang seharusnya semakin cerdas karena akses informasi yang melimpah justru menjadi semakin rentan dimanipulasi. Dengan kemampuan algoritma untuk mempelajari preferensi kita, dunia digital tidak hanya tahu apa yang kita sukai ia tahu bagaimana membuat kita peduli pada sesuatu yang bahkan tidak penting. Kita percaya sedang membuat keputusan, padahal kita hanya mengiyakan pilihan yang sudah difasilitasi mesin.
Dalam konteks Indonesia, viralitas ini memiliki dampak yang lebih besar daripada sekadar tontonan. Ia membentuk opini politik, memengaruhi perilaku kolektif, dan bahkan dapat menentukan arah kebijakan publik. Ketika sesuatu viral, ia tidak hanya menjadi percakapan; ia menjadi mandat sosial. Pemerintah, media, dan institusi akhirnya merespons apa yang ramai dibahas, bukan apa yang benar-benar dibutuhkan rakyat. Pada titik ini, viralitas bukan sekadar fenomena komunikasi ia telah menjadi infrastruktur kekuasaan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, viralitas tidak membutuhkan kebenaran untuk bekerja. Ia hanya membutuhkan perhatian. Berita palsu, fitnah, rumor, bahkan kebencian bisa menjadi komoditas yang lebih menguntungkan daripada fakta, pengetahuan, atau empati. Jika yang paling viral dianggap paling benar, maka kebenaran kehilangan pondasina. Kita bergeser dari peradaban yang dibangun atas dasar argumen menjadi peradaban yang bergantung pada algoritma.
Di sinilah letak bahaya yang sesungguhnya: masyarakat yang dikendalikan oleh viralitas adalah masyarakat yang tidak lagi memikirkan masa depan. Ia hidup dalam siklus reaksi, bukan refleksi. Ia lebih sibuk membakar energi untuk hal-hal kecil, sementara api yang sesungguhnya membara di kejauhan tidak pernah dipadamkan. Jika kondisi ini dibiarkan, kita bukan hanya kehilangan arah sebagai bangsa, tetapi juga kehilangan kemampuan untuk menyadari bahwa kita telah kehilangan arah.
Viralitas telah berhasil menggantikan kekuasaan tradisional tanpa kita sadari. Ia tidak memerintah lewat ancaman, melainkan lewat kenyamanan. Tidak dengan senjata, tetapi dengan perhatian. Tidak dengan paksaan, tetapi dengan kesenangan.
“Dan kekuasaan yang tidak terlihat adalah kekuasaan yang paling sulit dilawan”
Tumbler, Perselingkuhan, dan Banjir yang Tenggelam di Tengah Layar
Fenomena informasi digital di Indonesia bukanlah sekadar teori abstrak. Ia hadir dalam bentuk yang sangat nyata, kasat mata, bahkan banal. Kita bisa melihat bagaimana masyarakat bereaksi terhadap isu-isu tertentu dengan kecepatan dan intensitas yang luar biasa meski isu tersebut sebenarnya tidak memberikan dampak signifikan bagi kehidupan publik. Di saat yang sama, masalah yang mengancam nyawa, ekosistem, dan masa depan bangsa justru luput dari perhatian. Tiga peristiwa berikut adalah cermin paling terang dari kegagalan kita dalam memilah mana yang layak diperhatikan dan mana yang hanya pantas dilupakan.
Sebagai contoh pertama, kasus tumbler yang sempat viral menunjukkan bagaimana suatu peristiwa kecil dapat menjelma menjadi drama nasional. Satu benda hilang, seseorang merasa dirugikan, seseorang yang lain dianggap bersalah, lalu publik menilai, mengomentari, dan menghakimi. Semua terjadi begitu cepat, begitu emosional, dan begitu bising. Padahal, bila dilihat secara objektif, tidak ada satu pun aspek dari kasus ini yang berkaitan dengan kepentingan publik. Tidak ada potensi kerugian sosial, tidak ada dampak kebijakan, tidak ada risiko bagi hajat hidup orang banyak. Namun tumbler itu, entah bagaimana, menjadi begitu simbolis bukan karena nilainya, melainkan karena ia menyediakan panggung bagi publik untuk merasa lebih benar daripada orang lain.
Contoh kedua muncul dari ranah yang lebih personal: perselingkuhan figur publik. Alih-alih menjadi isu domestik yang selesai dalam ruang privat, ia berubah menjadi tontonan nasional. Nama-nama disebut, bukti dibagikan, opini dilontarkan. Orang-orang yang tidak mengenal para pelaku merasa ikut memiliki hak untuk mengomentari hidup mereka. Seolah-olah kisah perselingkuhan tersebut mengguncang struktur moral bangsa, padahal ia tak lebih daripada melodrama. Yang menarik dari fenomena ini bukan cerita perselingkuhannya, tetapi betapa publik membutuhkannya seperti candu ada kepuasan tersendiri dalam merayakan jatuhnya seseorang di ruang digital.
Namun ketika hujan turun di Sumatera, ketika sungai meluap dan tanah longsor meruntuhkan rumah, ketika ribuan orang kehilangan tempat tinggal dan masa depan, linimasa yang sebelumnya riuh tiba-tiba senyap. Tidak ada perdebatan panjang, tidak ada amarah kolektif, tidak ada keinginan publik untuk terus membicarakan tragedi itu. Bencana yang nyata yang membutuhkan empati, bantuan, dan perhatian hanya menjadi berita sekilas yang lewat seperti iklan. Kenapa? Karena banjir tidak menawarkan struktur narasi yang digemari publik digital. Tidak ada antagonis yang jelas, tidak ada pelaku yang bisa dihukum, tidak ada sensasi yang membuat orang merasa terlibat tanpa perlu bertanggung jawab.
Dengan demikian, ketiga kasus ini tidak berdiri sendiri; mereka adalah mosaik dari satu kenyataan besar: masyarakat kita semakin kehilangan kemampuan untuk mengenali kepentingan publik. Perhatian kolektif tidak lagi diarahkan oleh kesadaran moral, tetapi oleh mesin yang memproses apa yang paling mungkin membuat kita berhenti sejenak bukan untuk berpikir, tetapi untuk bereaksi.
Kasus tumbler memberi kita ilusi partisipasi. Kasus perselingkuhan memberi kita ilusi moralitas. Sementara kasus banjir yang seharusnya menggugah kesadaran dan solidaritas kalah dalam kompetisi perhatian karena tidak mampu bersaing dengan narasi yang lebih sederhana dan memuaskan secara emosional. Di sinilah tragedinya: bukan pada banjir yang merendam tanah, tetapi pada perhatian yang merendam logika dan empati.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah fakta bahwa fenomena ini muncul bukan karena masyarakat tidak peduli. Justru sebaliknya: masyarakat sangat peduli tetapi pada hal-hal yang salah. Dan ketika perhatian massal diarahkan pada isu-isu yang dangkal, kita sedang menyia-nyiakan energi sosial yang seharusnya bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah yang jauh lebih penting.
SIMULASI EMPATI
Mengapa Gosip Lebih Memuaskan daripada Membantu Korban Bencana
Pada titik tertentu, kita perlu bertanya: mengapa masyarakat tampaknya lebih mudah tersentuh oleh drama tumbler atau perselingkuhan ketimbang penderitaan korban banjir? Mengapa empati kita begitu selektif, begitu cepat muncul untuk hal yang tidak berdampak, namun begitu enggan hadir ketika dihadapkan pada tragedi nyata? Jawabannya tidak sesederhana “masyarakat tidak peduli”. Kenyataannya lebih rumit: kita sedang hidup dalam era simulasi empati, di mana emosi diproduksi dan dikonsumsi seperti komoditas.
Gosip dan drama personal menawarkan bentuk empati yang palsu namun nyaman. Kita merasa ikut marah, ikut tersinggung, atau merasa sedih melihat seseorang dihujat. Namun semua itu hanyalah bayangan dari empati, bukan empati itu sendiri. Ia tidak menuntut tindakan nyata, tidak memerlukan konsekuensi, dan tidak menimbulkan apa pun selain sensasi emosional sesaat. Kita merasa telah peduli, padahal kita hanya bereaksi. Kita merasa telah melakukan sesuatu, padahal kita tidak melakukan apa pun.
Di sisi lain, empati terhadap korban bencana tidak bekerja secara instan. Ia menuntut proses: melihat kenyataan yang menyakitkan, membayangkan diri berada dalam situasi yang sulit, dan menghadapi fakta bahwa penderitaan itu nyata serta membutuhkan tindakan. Empati yang sejati adalah beban ia mendorong kita untuk bergerak, membantu, atau setidaknya berhenti sejenak dari kenyamanan kita. Itulah sebabnya banyak orang menghindarinya. Empati yang otentik menuntut pengorbanan; empati yang digital hanya menuntut jempol.
Realitas ini diperparah oleh cara media sosial memformat emosi kita. Platform digital dirancang untuk mempercepat respons, bukan memperdalam pemahaman. Kita digiring untuk merasa sebelum berpikir. Kita lebih sering bereaksi terhadap cerita yang memicu keterkejutan atau kemarahan, dibandingkan merespons kesedihan yang membutuhkan kedewasaan emosional. Bencana tidak memberikan adrenalin; ia memberikan rasa bersalah, dan rasa bersalah bukan bahan bakar algoritma.
Yang membuat situasi ini semakin berbahaya adalah munculnya ilusi bahwa kita sudah cukup berempati hanya dengan mengetahui. Kita percaya bahwa membaca berita banjir sudah merupakan bentuk kepedulian. Padahal apa yang terjadi hanya simulasi: kita mengganti tindakan nyata dengan keterlibatan emosional yang cepat, dangkal, dan tidak berkelanjutan. Dengan kata lain, kita tidak lagi membedakan perasaan dengan tanggung jawab.
Pada akhirnya, masyarakat digital tidak kehilangan empati ia hanya salah menempatkannya. Kita bersimpati kepada hal-hal yang tidak menantang kita untuk berubah, dan menutup mata terhadap tragedi yang memaksa kita melihat kegagalan kolektif. Kita memilih drama karena drama memungkinkan kita menjadi pahlawan dalam pikiran kita sendiri tanpa harus menjadi pahlawan dalam kenyataan.
Inilah akar persoalan yang jarang dibicarakan: publik tidak sedang kekurangan hati, tetapi sedang kelebihan ruang pelarian. Empati kita disalurkan bukan ke arah penderitaan yang membutuhkan tindakan, tetapi ke arah kisah-kisah personal yang memberikan kepuasan moral instan. Dan selama kita terjebak dalam simulasi empati ini, kita tidak hanya gagal menolong korban bencana kita gagal melihat bahwa kita adalah bagian dari masalah.
Empati yang tidak menggerakkan apa pun hanyalah hiburan. Dan selama empati kita lebih nyaman dengan hiburan daripada kenyataan, bencana tidak akan pernah mendapatkan panggung yang layak. Bukan karena ia tidak penting, tetapi karena ia terlalu nyata untuk ditonton.
BAHAYA KOLEKTIF
Ketika Perhatian Menjadi Krisis Nasional
Fenomena perhatian yang tersesat bukan hanya masalah budaya pop atau kebiasaan digital. Ia adalah ancaman struktural yang dapat melumpuhkan kemampuan suatu bangsa untuk membaca realitas, menetapkan prioritas, dan bertindak secara kolektif. Kita sering menyalahkan pemerintah, media, atau keadaan, tetapi jarang mengakui satu kebenaran pahit: masyarakat yang tidak mampu membedakan perkara besar dan kecil adalah masyarakat yang sedang berjalan menuju kehancuran politik dan mental. Inilah bahaya terbesar dari era viralitas ia tidak membunuh kita secara tiba-tiba, tetapi melemahkan kita secara perlahan.
Bahaya pertama muncul ketika perhatian publik tidak lagi berfungsi sebagai alat pengawasan kekuasaan. Dalam demokrasi yang sehat, perhatian adalah mekanisme kontrol: rakyat memperhatikan agar penguasa tidak seenaknya bertindak. Namun ketika energi mental kita habis untuk memantau drama tumbler atau jatuh cinta pada isu selebritas, kita kehilangan kemampuan untuk mengawasi hal-hal yang seharusnya kita waspadai: korupsi, kebijakan publik yang tidak adil, bencana lingkungan, atau praktik ekonomi yang merugikan rakyat. Ketika perhatian publik terlepas dari kepentingan publik, demokrasi kehilangan fondasinya.
Bahaya kedua adalah hilangnya empati struktural. Bencana banjir, longsor, kemiskinan, atau ketidakadilan sosial membutuhkan solidaritas untuk diatasi. Namun masyarakat yang terlatih hanya untuk bereaksi terhadap sensasi tidak memiliki energi emosional yang cukup untuk peduli pada penderitaan nyata. Kita menjadi bangsa yang hidup dalam perasaan, tetapi tidak dalam tindakan. Kita marah pada apa yang viral, bukan pada apa yang salah. Kita tersentuh oleh cerita, bukan oleh kehidupan.
Lebih jauh lagi, viralitas menciptakan masyarakat yang selalu hidup dalam keadaan darurat psikologis. Gelombang informasi yang tidak pernah berhenti memaksa kita melompat dari satu isu ke isu lain tanpa menyelesaikan apa pun. Kita kehilangan kemampuan refleksi yang paling dasar: berpikir sebelum bereaksi. Akibatnya, kita hidup dalam kepanikan yang terus menerus—panik moral, panik identitas, panik opini namun tidak satu pun panik itu berubah menjadi solusi. Kita menjadi pelari maraton yang berlari tanpa tujuan.
Bahaya ketiga, dan mungkin yang paling mengerikan, adalah lunturnya kemampuan kolektif untuk merumuskan masa depan. Bangsa yang tidak mampu menetapkan prioritas tidak mungkin merencanakan apa pun. Kita terjebak dalam siklus reaktif yang didorong oleh algoritma: kita marah pada hal yang salah, membela hal yang sepele, dan kehilangan arah ketika harus mengambil keputusan penting. Jika kita tidak lagi bisa sepakat mengenai apa yang penting, maka kita tidak lagi memiliki dasar untuk bergerak bersama. Dan bangsa yang tidak bergerak bersama adalah bangsa yang mudah dipecah, digiring, bahkan dijual.
Pada tahap ini, viralitas bukan lagi fenomena komunikasi, melainkan virus sosial. Ia memasuki urat nadi kolektif kita dan menginfeksi kemampuan kita untuk menjadi masyarakat yang rasional. Dalam kondisi seperti itu, bencana alam bukan lagi ancaman terbesar bagi bangsa ini. Yang lebih berbahaya adalah bencana mental yang membuat kita hanya peduli pada apa yang terlihat, bukan pada apa yang menentukan masa depan kita.
Kita tidak akan runtuh oleh satu tumbler yang hilang, satu perselingkuhan terkenal, atau satu bencana banjir. Namun kita bisa runtuh oleh seribu gangguan kecil yang membuat kita buta terhadap hal-hal besar. Yang menggerogoti bangsa bukanlah musuh dari luar, tetapi ketidakmampuan kita mengelola perhatian sumber daya paling berharga yang kita miliki.
Bangsa yang kehilangan perhatian adalah bangsa yang kehilangan masa depan
JALAN KELUAR
Merebut Kembali Perhatian, Merebut Kembali Masa Depan
Tidak ada bangsa yang selamat hanya dengan mengetahui masalahnya. Bangsa hanya bertahan ketika ia mampu bangkit dari kesadaran menuju tindakan. Jika perhatian adalah sumber daya yang kini menjadi rebutan, maka langkah pertama untuk mengatasi krisis ini bukanlah mematikan teknologi, memusuhi media sosial, atau menyalahkan algoritma. Jalan keluarnya justru dimulai dari kita: dari cara kita memilih, merespons, dan mengarahkan energi mental kita.
Langkah pertama adalah memahami nilai perhatian. Selama ini kita mengira perhatian adalah sesuatu yang gratis sesuatu yang dapat kita berikan dengan mudah kepada siapa saja, kapan saja. Nyatanya, perhatian adalah bahan bakar kesadaran. Apa yang kita perhatikan akan membentuk apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita pikirkan akan menentukan siapa kita. Dengan kata lain, perhatian adalah tindakan politik. Ia menentukan arah hidup pribadi sekaligus arah bangsa.
Langkah kedua adalah memulihkan kemampuan untuk membedakan. Ini mungkin terlihat sederhana, tetapi di era informasi tanpa filter, kemampuan membedakan mana yang substansial dan mana yang hanya kebisingan adalah kompetensi yang kian langka. Kita harus belajar berkata: Ini penting, ini tidak penting, ini menyentuh hidup orang banyak, ini sekadar selingan. Tidak semua yang mengganggu pikiran layak diperjuangkan. Tidak semua yang viral layak dikejar.
Jalan keluar berikutnya adalah menunda reaksi. Media sosial mengajarkan kita untuk bereaksi cepat, tetapi peradaban dibangun oleh mereka yang mampu berpikir lambat. Sebelum berkomentar, bertanya, menyebar, atau marah, ambil jeda. Jeda adalah bentuk perlawanan terhadap algoritma. Jeda memberi ruang bagi kesadaran untuk bekerja, bukan sekadar impuls. Dalam jeda itulah lahir kemampuan melihat sesuatu dari perspektif yang lebih luas.
Kita juga perlu membangun literasi empati—bukan empati yang dangkal, bukan empati yang berumur 24 jam seperti trending topic, tetapi empati yang menuntut keterlibatan. Empati yang sejati adalah kesediaan untuk melihat penderitaan orang lain sebagai bagian dari cerita kita sendiri. Ketika empati tumbuh, perhatian tidak lagi menjadi pelarian, tetapi menjadi panggilan. Kita tidak lagi menunggu tragedi viral untuk membantu. Kita membantu karena memahami bahwa penderitaan tidak membutuhkan izin untuk menjadi penting.
Jalan keluar terakhir adalah menciptakan budaya yang menilai kontribusi, bukan kehebohan. Kita harus berhenti memberi panggung pada sensasi, dan mulai merayakan kerja nyata. Ketika masyarakat menghargai upaya, bukan drama; substansi, bukan sorotan maka algoritma akan kehilangan kekuasaannya. Viralitas hanya kuat karena kita memberinya makan. Ketika kita berhenti menyuapnya dengan perhatian, ia akan mati dengan sendirinya.
Krisis perhatian bukanlah akhir dari segalanya. Justru sebaliknya, ini adalah titik balik penting. Setiap era dalam sejarah manusia memiliki pertarungannya masing-masing dan inilah pertarungan kita: apakah kita memilih masa depan dengan kesadaran, atau menyerah kepada gelombang informasi yang menenggelamkan identitas kita?
Kita mungkin tidak dapat mengubah algoritma dalam semalam. Kita mungkin tidak dapat menghentikan banjir atau gosip selebritas. Namun kita selalu memiliki kendali atas satu hal: pilihan kita tentang apa yang kita pedulikan.
Dan di sanalah masa depan bangsa ini bermula.
KESIMPULAN
Perhatian Adalah Masa Depan
Pada akhirnya, perjalanan kita dalam memahami viralitas, dataisme, dan seleksi perhatian bukan sekadar wacana akademik atau renungan budaya digital. Semua ini adalah cermin tentang siapa kita sebagai manusia tentang apa yang kita anggap penting, apa yang kita relakan hilang, dan apa yang kita pilih untuk diperjuangkan. Di abad lalu, bangsa-bangsa bertarung untuk tanah, senjata, dan kekuasaan politik. Hari ini, kita bertarung untuk sesuatu yang jauh lebih halus namun jauh lebih menentukan: perhatian.
Perhatian bukan lagi sekadar aktivitas mental. Ia telah menjadi infrastruktur kesadaran yang menentukan arah zaman. Perhatian adalah pintu masuk bagi gagasan, nilai, kebijakan, dan tindakan. Jika pintu itu salah arah, maka seluruh perjalanan bangsa akan tersesat bukan karena kita bodoh, tetapi karena kita sibuk dengan hal-hal yang tidak membawa kita ke mana-mana.
Dalam konteks ini, tumbler, perselingkuhan, dan banjir bukanlah sekadar peristiwa. Mereka adalah mercusuar yang menunjukkan betapa rapuhnya prioritas kita. Masyarakat yang lebih serius memperdebatkan benda yang hilang ketimbang kehidupan yang hilang sedang menghadapi krisis yang lebih dalam daripada sekadar banjir air ia sedang menghadapi banjir makna. Ketika makna menjadi komoditas, kebenaran menjadi opsional, dan empati menjadi dekorasi, kita kehilangan kemampuan untuk membangun masa depan bersama.
Yuval Noah Harari mengingatkan bahwa manusia sedang memasuki fase baru sejarah, di mana data dan jaringan informasi menjadi agama baru. Dalam agama ini, nilai tidak ditentukan oleh substansi, tetapi oleh keterhubungan. Bukan apa yang kita lakukan yang menentukan siapa kita, tetapi seberapa sering tindakan kita diperhatikan, disukai, dan dibagikan. Jika kita tidak berhati-hati, kita akan menyerahkan kemanusiaan kita kepada sistem yang tidak pernah peduli pada manusia.
Namun, setiap krisis selalu mengandung peluang. Viralitas yang hari ini terlihat sebagai ancaman bisa menjadi alat perubahan jika kita gunakan secara sadar. Perhatian yang selama ini dimonopoli algoritma bisa direbut kembali jika kita belajar memilih. Kita tidak harus menolak teknologi untuk menjadi manusia; kita hanya perlu memastikan bahwa teknologi tidak menentukan nilai kemanusiaan kita.
Bangsa yang menentukan fokusnya adalah bangsa yang menentukan nasibnya.
Jika kita ingin masa depan yang lebih adil, lebih cerdas, dan lebih manusiawi, kita harus mulai dengan membenahi satu hal yang tampak sepele, namun sesungguhnya adalah mesin dari seluruh peradaban digital: perhatian. Karena pada akhirnya, sejarah tidak ditulis oleh mereka yang paling ribut, tetapi oleh mereka yang tahu apa yang layak diperjuangkan. Dan jika kita memilih dengan sadar apa yang kita perhatikan, maka kita memilih dengan sadar masa depan seperti apa yang ingin kita tinggali.
“Perhatian adalah pilihan. Dan pilihan itu selama ini, dan selamanya ada di tangan kita”

