Home / Tak Berkategori / Kisah di Balik Nazar: Pesan Akhir Zaman dari H. Ibrahim Yusuf

Kisah di Balik Nazar: Pesan Akhir Zaman dari H. Ibrahim Yusuf

Kisah di Balik Nazar: Pesan Akhir Zaman dari H. Ibrahim Yusuf

Nasihat ini bersumber dari Bapak Ahmad Murni Nasution (Narasumber) yang menyampaikan salah satu Pesan Dakwah H. Ibrahim Yusuf.

Di sebuah kampung yang jauh dari hiruk-pikuk dunia, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama menanti karunia keturunan. Tahun berganti, usia bertambah, namun tangis bayi tak juga terdengar di rumah mereka. Dalam doa yang tak pernah putus, dalam sujud yang penuh air mata, mereka berdua berikrar kepada Allah:

“Jika Engkau karuniakan kami seorang anak perempuan, maka kelak ketika tiba masanya untuk menikah, siapa pun lelaki yang datang melamarnya akan kami terima.”

Waktu berlalu. Allah mengabulkan doa mereka. Lahir seorang putri yang lembut rupanya dan santun tutur katanya. Ia tumbuh dalam kasih sayang, menjadi cahaya dalam rumah yang dulu sepi. Hingga tibalah masa yang dijanjikan. Seorang lelaki datang melamar — namun bukan manusia seperti biasanya, melainkan makhluk berwujud binatang. Hati kedua orang tua itu bergetar. Antara ngeri dan gentar, mereka teringat nazar yang pernah terucap. Maka dengan berat hati, mereka tunaikan janji kepada Tuhan.

Putrinya pun dibawa pergi oleh lelaki itu, meninggalkan rumah dan hanya memberikan selembar alamat.

“Jika Ayah dan Ibu rindu,” katanya, “datanglah ke tempat ini.”

Waktu berjalan. Enam bulan kemudian, kerinduan menyesak dada kedua orang tua itu. Mereka pun memutuskan berangkat mengunjungi anaknya. Sebelum pergi, mereka berdebat kecil: oleh-oleh apa yang pantas dibawa? Akhirnya mereka membawa dua potong daging — satu halal, satu haram. Niatnya, daging halal untuk sang putri, dan daging haram untuk menantunya yang berwujud binatang.

Namun perjalanan mereka tidak mudah. Sepanjang jalan, Allah menyingkapkan banyak tanda.

Pertama, mereka melewati sebuah pohon mangga yang aneh. Dalam satu pohon, tumbuh tiga jenis buah: yang matang, yang mengkal, dan yang masih mentah. Ketiganya bergoyang ditiup angin, seolah saling membanggakan diri.
Sang ayah berhenti dan berujar, “Lihatlah, masing-masing merasa paling manis dan terbaik.”
Keduanya melanjutkan perjalanan dengan hati yang heran.

Beberapa hari kemudian, mereka menemukan tiga sumur. Sumur pertama dan ketiga saling mengisi, airnya melimpah dan jernih. Namun sumur di tengahnya kering, padahal air dari sumur pertama melewati sumur kedua menuju sumur ketiga.
Sang ibu berkata, “Aneh, kenapa sumur tengah tak terisi?”
Mereka terdiam, tak mengerti maknanya.

Lalu mereka melihat seekor anjing betina hendak melahirkan. Anak anjing sudah keluar separuh tubuhnya, namun sang induk justru berlari ke sana kemari, tidak peduli pada proses kelahiran yang sedang terjadi.
Sang ayah berkata lirih, “Betapa kacaunya dunia ini.”

Tak lama kemudian, sang ayah terjatuh di jalan. Ia terluka, dan mereka berdua berhenti di bawah pohon besar untuk beristirahat. Saat itulah mereka membuka bungkusan daging dan menyadari sesuatu: keduanya lupa mana yang halal dan mana yang haram. Daging itu kini sama — rupa, warna, dan baunya tak lagi bisa dibedakan.

Akhirnya mereka tiba di alamat yang tertera. Di hadapan mereka berdiri rumah besar nan indah. Seorang lelaki tampan dan berwibawa keluar menyambut dengan senyum ramah.
“Silakan masuk, Ayah dan Ibu,” katanya lembut.

Betapa terkejut mereka saat mengetahui bahwa lelaki itu adalah menantu mereka — bukan binatang, melainkan manusia rupawan yang ternyata seorang wali Allah. Putri mereka berdiri di sampingnya, anggun dan berseri.

Di ruang tamu yang sejuk, mereka bercerita tentang perjalanan dan kejadian yang mereka alami. Menantunya mendengarkan dengan saksama, lalu tersenyum dan berkata dengan lembut:

“Setiap peristiwa yang kalian lihat adalah tanda dari Allah.
Pohon mangga itu menggambarkan keadaan manusia di akhir zaman. Semua merasa paling benar dan paling manis, padahal kebenaran hanya milik Allah.

Tiga sumur itu adalah gambaran tentang orang kaya dan miskin. Orang kaya akan saling menolong sesama mereka, sementara si miskin ditinggalkan dalam kekeringan.

Anjing yang melahirkan itu adalah tanda bahwa anak-anak di akhir zaman akan memerintah orang tuanya, tak lagi menghormati mereka.

Dan ketika Ayah terjatuh serta lupa membedakan daging halal dan haram, itu adalah pertanda bahwa di akhir zaman, manusia akan bingung membedakan mana yang benar-benar halal dan mana yang haram. Sesuatu yang semestinya halal bisa menjadi makruh karena keserakahan dan niat yang salah.”

Suasana hening. Air mata menetes di pipi keduanya.

“Maka,” lanjut sang wali, “tunaikanlah janji kepada Allah dengan hati yang tulus, karena setiap nazar, setiap ucapan, adalah ikatan antara manusia dengan Tuhannya. Janganlah engkau berkata kecuali dengan niat yang lurus.”

Malam itu, kedua orang tua itu beristirahat dalam keharuan yang dalam. Mereka menyadari, perjalanan yang mereka tempuh bukan sekadar perjalanan raga, tetapi perjalanan ruhani — dari kebingungan menuju pemahaman, dari nazar menuju makna.

Pesan H. Ibrahim Yusuf

  1. Ibrahim Yusuf sering mengisahkan cerita ini dalam majelisnya sebagai cermin kehidupan manusia modern, yang kadang berlari tanpa arah, terikat oleh janji yang tak dipahami, dan mudah menilai tanpa mengerti makna. Melalui kisah ini, beliau mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan menuju pengenalan terhadap Allah. Bahwa setiap peristiwa, sekecil apa pun — bisa menjadi wahyu kehidupan, bila kita mau membaca dengan hati yang jernih.

Kisah ini hanyalah satu dari sekian banyak jejak dakwah yang beliau tinggalkan jejak yang tak hanya dikenang, tapi terus menghidupkan semangat di hati setiap orang yang pernah bersinggungan dengannya.

Buku “Biografi H. Ibrahim Yusuf” kini sedang dalam proses penulisan. Doakan semoga segera rampung, agar lebih banyak kisah, hikmah, dan teladan dari perjalanan hidup beliau dapat tersampaikan dengan utuh kepada kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CAPTCHA ImageChange Image